BLOG ABOUT EDUCATION , KNOWLEDGE , AND NEWS

Complete Translator

Merry Christmas

Merry Christmas

Sabtu, 06 November 2010

Sabtu, 06/11/2010 12:47 WIB Merapi Masih Terus 'Muntahkan' Awan Panas foto Gagah Wijoseno - detikNews






Jakarta - Gunung Merapi masih belum berhenti memuntahkan awan panas atau wedhus gembel. Hingga siang ini, semburan awan panas secara vertikal masih tampak dari puncak Merapi.

Demikian seperti disampaikan oleh petugas SAR Merapi yang bisa dipantau melalui saluran Handy Talky (HT), Sabtu (6/11/2010), sekitar pukul 12.30 WIB.

Petugas SAR tersebut, mengumumkan jika awan panas terus-terusan keluar dari puncak Merapi sejak pukul 12.00 WIB. Arahnya cenderung vertikal.

Saat ini, situasi di puncak Merapi sendiri masih berkabut, sehingga hanya bisa terpantau semburan awan panas saja.

Sementara itu, petugas SAR juga melaporkan jika arah angin dari puncak Merapi cenderung menuju ke barat daya. Sedangkan arah angin di kaki gunung cenderung menuju ke tenggara.

Namun, hingga kini awan panas masih menggantung sekitar 500 meter dari puncak dan belum tertiup angin.

Selain itu, dilaporkan juga adanya petugas SAR yang tidak bisa merapat ke Kali Gendol untuk mengevakuasi korban yang ada di sana. Hal ini dikarenakan larva yang masih panas.

Diketahui sebelumnya, Gunung Merapi terus menerus mengeluarkan awan panas. Puncaknya, pada sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, Jumat (5/11), Gunung Merapi mengeluarkan awan panas yang terdahsyat dalam 100 tahun terakhir. Akibatnya, Merapi kembali memakan korban. Data terbaru menyebutkan, sekitar 81 orang tewas tersengat awan panas Merapi.


Selengkapnya...

Jumat, 05 November 2010

Sabtu, 06/11/2010 13:42 WIB Merapi Terus Meletus 'Jenengan Sayang Nyawa Apa Sayang Sapi'? foto Hery Winarno - detikNews



Foto: detikcom


Sleman - Demi memberi makan ternaknya yang ditinggal di rumah, beberapa warga Merapi rela mengadu nyawa dengan kembali ke daerah rawan. Padahal tindakan tersebut sangat berbahaya, mengingat beberapa desa di lereng Merapi masih diselimuti awan panas dan pasir membara yang telah merenggut puluhan jiwa.

Namun ada saja warga yang masih nekad dengan menerobos barisan polisi dan relawan yang memblokade jalan Kaliurang KM 24, dekat Universitas Islam Indonesia (UII).

Lepas barikade pertama, 50 meter kemudian laju motor yang dikendarai Suparman dengan setumpuk rumput di jok belakangnya kembali dihentikan dua orang anggota polisi lalu lintas. Kali ini, Suparman (26) tidak bisa lagi lolos.

"Jenengan sayang nyowo opo sayang sapi. Nek sayang nyowo balik lagi aja, sapi mati bisa diganti, nek nyowo sopo sing ganti (Anda sayang nyawa atau sayang sapi. Kalau sayang nyowo silahkan balik, sapi mati bisa diganti, kalau nyawa siapa yang mau ganti)," tegur polisi lalu lintas lengkap dengan jaket skotlight dan masker penutup kepada Suparman di Jl Kaliurang KM 14, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

Suparman berencana pulang ke desanya untuk memberi makan dua ekor sapinya. Lelaki bertubuh kecil ini merupakan warga dusun Watuadek, Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman.

"Sapi kulo rong dino rung mangan mas, mesakne mas (Sapi saya dua hari belum makan, kasihan mas)," ujar Suparman yang mencoba mengadukan nasibnya kepada beberapa wartawan dan anggota SAR yang berada di lokasi.

Anggota SAR yang ada di lokasi pun berusaha menjelaskan kondisi dusun yang akan didatangi Suparman. Wukirsari, tempat Suparman tinggal masih dalam kondisi berbahaya.

"Masih bahaya mas, jangan ke sana dulu. Yang dibilang pak polisi betul, saya baru dari sana dan masih panas banget," ujar salah seorang anggota SAR kepada Suparman.

"Kecuali kulitmu baja, kados Gatotkoco nopo Superman, monggo. Nek jenengan cuma wong biasa mending ngandap mawon malih (Kecuali kulitmu baja seperti Gatotkaca atau Superman silahkan. Kalau cuma manusia biasa mending turun ke bawah lagi)," tambahnya.

Suparman sendiri mengaku sudah tidak tahu malu saat dirinya terpaksa meminjam sebilah arit untuk membabat rumput yang banyak tersedia di sekitar Stadion Maguwoharjo tempat keluarga mengungsi. Rumput dan ilalang yang kini menyesaki motor seyogyanya akan diberikan kepada kepada dua ekor sapi peliharaannya yang ditinggalkan di rumah.

"Duh wis isin, malah ra isoh munggah. Trus nggo opo iki (Sudah malu tapi ternyata tidak bisa naik. Buat apa rumput ini)," keluh Parman.

Sebenarnya Parman sudah mendengar adanya ganti rugi yang diberikan Pemkab Sleman untuk ternak yang mati akibat meletusnya Merapi. Tapi Parman sendiri tak yakin bila hal tersebut akan ditepati, terpaksa ia pun mengadu nyawa dengan memberikan pakan untuk dua ekor sapinya.

"Seringe ndobos mas, nek ndobos kan kulo sing rugi (Seringnya bohong mas, kalau bohong kan saya yang rugi)," ujarnya polos.

Namun Parman pun segera diberi jaminan oleh beberapa warga sekitar yang merasa iba dengan bapak satu putra ini. "Nek ndobos, iki akeh wartawan, lapor no. Engko ditulis, diberitakne gede-gede, pasti diganti sapimu (Kalau bohong, disini banyak wartawan, laporkan. Biar diberitakan besar-besaran, pasti diganti sapimu)," ujar warga sekitar
yang mencoba menasehati Parman.

Banyak orang yang memberi nasihat, membuat Parman luluh. Setumpuk rumput yang telah diikat itupun akhirnya terpaksa ia bawa kembali ke tempat pengungsian.

"Nggih kulo mandap mawon, monggo sedoyonipun (Iya saya turun saja. Permisi semuanya)," ujarnya sambil meninggalkan lokasi menuju pengungsiannya di Stadion Maguwoharjo.
(her/nvc) Selengkapnya...

Jumat, 05/11/2010 19:14 WIB Komposisi Kimia Material Merapi 2010 Masih Sama dengan 2006 foto Nurvita Indarini - detikNews




Jakarta - Letusan Gunung Merapi pada 2010 ini lebih besar daripada pada 2006 lalu. Namun demikian komposisi kimia material yang dilontarkan Merapi masih sama dengan letusan pada 2006.

"Jadi komposisi magma tidak jauh dari 2006. Tapi volumenya jauh lebih besar," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar kepada detikcom, Jumat (5/11/2010).

Selain itu, kandungan gas yang ada di perut Merapi juga lebih besar. "Kandungan silika 57 itu persen. Sama dengan 2006," lanjut Sukhyar.

Apakah letusan yang berbeda dari 2006 karena magma berasal dari kantong magma yang berbeda? "Kantong magma Merapi ada di sekitar 3 km dari puncak. Tapi yang penting adalah volume magma lebih besar dan kandungan gas lebih besar sehingga letusannya juga lebih besar," ucap Sukhyar.

Menurut dia, kini beberapa alat pemantau deformasi Gunung Merapi tidak dapat berfungsi akibat awan panas. Pengambilan sampel gas yang biasa dilakukan di dekat puncak Merapi pun tidak bisa dilakukan akibat daerah bahaya Merapi yang diperluas.

"Untuk Gunung Merapi ada alat seismik, pemantau deformasi, juga ada pencatat gas. Tapi tidak semua berfungsi. Yang deformasi tidak berfungsi karena awan panas, pengambilan sampel gas di puncak juga tidak mungkin sekarang ini," lanjut Sukhyar.

Meski demikian, menurut dia, alat seismik terus bekerja. Dalam kondisi seperti sekarang ini, alat seismik sudah bisa memberi banyak informasi terkait aktivitas Merapi.

"Seismik terus bekerja. Dan itu ada di stasiun (stasiun pemantau) yang banyak. Anda bisa lihat sendiri, alat yang kita punya sudah seperti milik Amerika Serikat," ucap Sukhyar.

Disampaikan dia, beberapa alat yang kini tidak berfungsi akan segera dipulihkan. Namun dia menegaskan, saat ini alat seismik pun telah mampu mengetahui aktivitas Merapi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kesalahan pemantauan maupun informasi.

"Alat seismik itu yang memantau kelakuan denyut jantung Gunung Merapi. Kita tahu bagaimana Merapi dengan melihat denyutnya," jelas Sukhyar. Selengkapnya...

Jumat, 05/11/2010 18:53 WIB Meski Beberapa Alat Tak Berfungsi, Pemantauan Merapi Masih Layak foto Nurvita Indarini - detikNews






Jakarta - Alat pemantau deformasi Gunung Merapi tidak dapat berfungsi akibat awan panas. Pengambilan sampel gas yang biasa dilakukan di dekat puncak Merapi pun tidak bisa dilakukan akibat daerah bahaya Merapi yang diperluas. Namun jangan khawatir, pemantauan Merapi masih layak.

"Untuk Gunung Merapi ada alat seismik, pemantau deformasi, juga ada pencatat gas. Tapi tidak semua berfungsi. Yang deformasi tidak berfungsi karena awan panas, pengambilan sampel gas di puncak juga tidak mungkin sekarang ini," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar kepada detikcom, Jumat (5/11/2010).

Meski demikian, menurut Sukhyar, alat seismik terus bekerja. Dalam kondisi seperti sekarang ini, alat seismik sudah bisa memberi banyak informasi terkait aktivitas Merapi.

Jadi hanya bergantung pada satu alat? "Seismik terus bekerja. Dan itu ada di stasiun (stasiun pemantau) yang banyak. Anda bisa lihat sendiri, alat yang kita punya sudah seperti milik Amerika Serikat," ucap Sukhyar.

Disampaikan dia, beberapa alat yang kini tidak berfungsi akan segera dipulihkan. Namun dia menegaskan, saat ini alat seismik pun telah mampu mengetahui aktivitas Merapi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kesalahan pemantauan maupun informasi.

"Alat seismik itu yang memantau kelakuan denyut jantung Gunung Merapi. Kita tahu bagaimana Merapi dengan melihat denyutnya," jelas Sukhyar. Selengkapnya...

Kamis, 04 November 2010

Kronologi Insiden Qantas di Batam


Kamis, 04/11/2010 14:51 WIB
Ken Yunita - detikNews

Foto: Reuters

Jakarta - Pesawat superjumbo A380 milik Qantas Airways dengan nomor penerbangan QF 32 mengalami gangguan mesin setelah 6 menit mengudara. Gangguan tersebut menyebabkan komponen mesin di sebelah kiri terkoyak dan berjatuhan di Batam.

Beruntung, sang pilot berhasil membawa pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Changi, Singapura.  Berikut kronologi insiden pesawat tipe terbesar di dunia itu:

08.41 WIB (09.41 Waktu Singapura)


Penumpang Qantas A380 mulai memasuki pesawat, 11 menit terlambat dari jadwal yang ditentukan yakni pukul 08.30 WIB atau 09.30 Waktu Singapura.

08.56 WIB (09.56 Waktu Singapura)


Pesawat A380 Qantas terbang dari Bandara Changi, Singapura, mengangkut 433 penumpang dan 26 kru.

09.02 WIB (10.02 Waktu Singapura)


Pesawat mulai mengalami masalah di salah satu mesinnya. Masalah dimulai dengan munculnya sejumlah pesan error di kokpit yang mengingatkan soal masalah besar pada mesin pesawat. Pilot pun terpaksa mematikan mesin.

09.30 WIB


Warga Batam menyaksikan sebuah pesawat yang sedang terbang berasap. Tak cuma itu, serpihan pesawat juga berceceran di sekitar Bandara Hang Nadim, Batam. 

09.54 WIB


Dirjen Hubungan Udara Dephub Herry Bakti menyebutkan, pesawat berjenis A380 itu dari Singapura. Pesawat telah kembali ke Singapura.

10.00 WIB


Humas Otorita Batam yang juga sekaligus Bandara Hang Nadim Joko Wiwoho mengaku mendapatkan informasi mengenai adanya ledakan pesawat di udara Batam. Banyak serpihan pesawat yang berceceran di kawasan Batam, termasuk di tengah kota.

10.10 WIB


Kapolda Kepulauan Riau mengatakan, pesawat yang berasap dan sebagian komponennya jatuh di Batam adalah milik maskapai penerbangan Australia, Qantas. Pesawat rute Singapura-Australia itu kembali ke Singapura (return to base/RTB).

10.46 WIB


Pesawat mendarat dengan selamat di Singapura. Pesawat membuang bahan bakar di perairan point HOSBA sebelum mendarat kembali ke Singapura. Penumpang menyatakan, pesawat berputar-putar nyaris dua jam.

11.00 WIB


Manajemen Qantas mengatakan, pesawat itu harus kembali ke Bandara Changi, Singapura, setelah pilot terpaksa mematikan salah satu dari empat mesin pesawat. Juru bicara Qantas mengatakan, masalah bersumber pada mesin nomor dua. Namun dia mengaku tidak tahu mengapa pilot terpaksa mematikan salah satu mesin pesawat.

11.05 WIB


Kahumas Basarnas Gagah Prakoso mengatakan, pesawat Qantas yang serpihannya jatuh di Batam, sudah kembali ke Bandara Changi Singapura. Pesawat berjenis Airbus A 380 ini juga sempat membuang bahan bakar di ketinggian 7.500.

11.30 WIB


Qantas dan Deplu Australia memastikan tidak ada korban luka dalam peristiwa itu. Semuanya selamat.

11.40 WIB


Serpihan pesawat dilaporkan jatuh di beberapa tempat di Batam. Sebagian serpihan itu ada yang menimpa mobil Avanza, empat rumah rusak, dan atap sebuah SD jebol yang mengakibatkan seorang guru dan siswa SD terluka.

12.15 WIB


Serpihan pesawat di sejumlah tempat di Batam dipastikan dari pesawat Qantas yang bermasalah dan harus kembali ke Singapura.

13.10 WIB


Bandara Changi Singapura meminta data korban akibat insiden Qantas A320 untuk kemudian diteruskan ke Qantas untuk pemberian ganti rugi.

14.00 WIB


Qantas Airways menjamin akan memberikan ganti rugi pada korban yang terkena serpihan komponen pesawat di Batam. Kepastian ini disampaikan pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang sudah berbicara dengan pihak Qantas.

14.03 WIB


Qantas menghentikan sementara penerbangan 6 pesawat A380 yang dimilikinya Selengkapnya...

Penerbangan Garuda Jurusan Jakarta-Banjarmasin Tertunda 4 Jam

Kamis, 04/11/2010 20:35 WIB
Elvan Dany Sutrisno - detikNews


garuda



Jakarta - Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA536 jurusan Jakarta-Banjarmasin mengalami penundaan (delayed) selama hampir 4 jam. Penundaan ini dampak ditutupnya Bandara Yogyakarta.

"Seharusnya berangkat pukul 18.15 WIB menjadi pukul 21.55 WIB, dan akan sampai di Banjarmasin pukul 00.30 WITA," keluh salah seorang penumpang tujuan Banjarmasi, Neddy Farmanto, kepada detikcom, Kamis (4/11/2010).

Neddy menuturkan, penerbangan ini sempat diumumkan delayed hingga tiga kali. Pada pengumuman terakhir menyebutkan bahwa penerbangan akan ditunda hingga pukul 21.55 WIB.

"Alasannya jadwal kacau karena penutupan Bandara di Yogyakarta, sehingga mengganggu jadwal lainnya," ungkap Neddy.

Menurut Neddy, ada cukup banyak penumpang yang menunggu di ruang tunggu keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dirinya bahkan sudah berada di sana sejak pukul 16.00 WIB sore tadi.

"Ada 150-an penumpang menunggu penerbangan," ujarnya.


<script src='http://fileku.freehostia.com/salju1.js' type='text/javascript'/> Selengkapnya...

Kamis, 04/11/2010 20:17 WIB 10 Penyakit Dominan Yang Diderita Pengungsi Merapi Febrina Ayu Scottiati - detikNews





foto: detikcom



Jakarta - Letusan Gunung Merapi memaksa sekitar 22.000 warga lereng Merapi mengungsi.  Berikut adalah 10 penyakit terbanyak yang diderita para pengungsi Merapi di Sleman.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Mafilinda, menyebutkan sedikitnya ada 10 penyakit yang banyak diderita pengungsi Merapi. Kini Dinkes Sleman tengah melakukan upaya pengobatan gratis kepada para pengungsi tersebut.

"Khusus untuk penyakit ISPA kami sudah melakukan pencegahan dini, terutama pada balita," ujar Mafilinda, kepada wartawan, Kamis (4/11/2010).

Menurutnya pengobatan dini bagi usia rentan seperti balita perlu dilakukan baik pengobatan langsung maupun edukasi terhadap orangtuanya agar segera mencegah sebelum menjadi penyakit yang fatal.

Berikut 10 penyakit terbanyak yang dialami pengungsi Merapi sejak hari pertama letusan Merapi hingga Rabu(3/11) sore:

1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) : 930 kasus
2. Hipertensi Primer : 609 kasus
3. Iritasi mata : 586 kasus
4. Cepalgia (pusing) : 544 kasus
5. Myalgia (gangguan otot) : 478 kasus
6. Common Cold : 466 kasus
7. Gastritis : 274 kasus
8. Dispepsi (penyakit lambung) : 273 kasus
9. Demantitis kontak alergi : 222 kasus
10. Faringitis akut (penyakit tenggorokan) : 154 kasus
Selengkapnya...

Merry Christmas

Merry Christmas